Today, their stories carry not only the weight of tradition, but also the momentum of a global movement, one that recognizes women's voices as vital - not only in honouring the strength and wisdom the past, but in shaping a more peaceful and just future.
Saat ini, kisah-kisah mereka tidak hanya membawa nilai tradisi, tetapi juga momentum gerakan global, yang mengakui suara perempuan sebagai sesuatu yang vital - tidak hanya dalam menghormati kekuatan dan kearifan masa lalu, tetapi juga dalam membentuk masa depan yang lebih damai dan adil.
This global movement is guided by the Women, Peace and Security (WPS) agenda - an international framework born from the landmark United Nations Security Council Resolution 1325 in 2000 and further strengthened by a series of follow-up resolutions. The WPS agenda recognizes the distinct and often disproportionate impacts of conflict on women and girls, while affirming that they are not only survivors of crisis, but powerful agents of change capable of transforming the very conditions that give rise to violence and paving the way towards a more inclusive and enduring peace.
Gerakan global ini dipandu oleh agenda Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan (WPS) -kerangka kerja internasional yang lahir dari Resolusi Dewan Keamanan PBB 1325 pada tahun 2000 dan selanjutnya diperkuat oleh serangkaian resolusi lanjutan. Agenda WPS mengakui dampak konflik yang berbeda dan seringkali tidak proporsional terhadap perempuan dan anak perempuan, sekaligus menegaskan bahwa mereka bukan hanya penyintas krisis, tetapi juga agen perubahan yang kuat yang mampu mengubah kondisi yang memicu kekerasan dan membuka jalan menuju perdamaian yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
While commitments and policy frameworks lay the foundation for peace and inclusion, it is through individual stories that the true meaning of these agendas comes to life. The WPS agenda is not only written in resolutions and plans; it is lived by women in their homes, communities, and everyday acts of courage and leadership. It is with this belief that this storybook was created: to honour the voices of women who are shaping the future from the ground up.
Komitmen dan kerangka kebijakan ini menjadi dasar bagi perdamaian dan inklusi, dan makna sebenarnya dari agenda Perempuan perdamaian dan keamanan ini direalisasikan melalui kisah-kisah individu. Agenda WPS tidak hanya dituangkan dalam bentuk resolusi dan rencana; namun juga dijalankan oleh para perempuan di rumah, komunitas, dan kegiatan sehari-hari dengan penuh keberanian dan menunjukkan kepemimpinan mereka. Dengan keyakinan inilah buku cerita ini dibuat: untuk menlantangkan suara-suara perempuan dari akar rumput ke masyarakat yang lebih luas untuk membangun masa depan.
This book brings to life the lived experiences of eight remarkable women from Central Sulawesi, each embodying the spirit of peace and resilience. Their stories are woven into the fabric of the women, peace and security agenda and are organized around its four pillars, which frame both the challenges women face in conflict and the roles they play in building peace:
Buku ini mendokumentasikan pengalaman hidup delapan perempuan luar biasa dari Sulawesi Tengah, yang masing-masing mewujudkan semangat perdamaian dan ketahanan. Kisah-kisah mereka dituangkan ke dalam kerangka agenda WPS dan disusun berdasarkan empat pilarnya yang merupakan panduan prinsip, serta mengidentifikasi tantangan yang dihadapi perempuan dalam konflik dan peran yang mereka mainkan dalam membangun perdamaian.
As you turn these pages, may you be moved by the courage, wisdom, and unwavering hope of these women storytellers. In honouring their stories, we also honour the generations of women who came before them, and the generations of peacebuilders they now inspire. Their voices are an invitation to listen, to learn, and to act because peace is not just an ideal, but a shared responsibility.
Saat membaca buku ini, semoga terinspirasi oleh keberanian, kebijaksanaan, dan harapan yang tak tergoyahkan dari para pendongeng perempuan ini. Ini adalah penghargaan atas kisah mereka, dan juga penghargaan pada generasi perempuan sebelum mereka, dan generasi pembangun perdamaian yang terinspirasi dari kisah mereka. Suara mereka adalah panggilan untuk mendengarkan, belajar, dan bertindak karena perdamaian bukan sekadar cita-cita, tetapi tanggung jawab bersama.
Initially a participant, Evi quickly took on leadership roles, becoming a facilitator and eventually coordinating the Women and Children's Protection House until 2018. She was then recruited by the Poso Civil Society Empowerment Institute (LPMS) to evaluate and monitor a programme on economic empowerment for former terrorism convicts. Her work brought her to Kayamanya village and eventually to Tamanjeka hamlet, located at the foot of Gunung Biru (Blue Mountain).
Berawal dari menjadi peserta, Evi segera mengambil peran sebagai pemimpin dengan menjadi fasilitator, hingga akhirnya mengkoordinasi Rumah Perlindungan Perempuan dan Anak sampai dengan tahun 2018. Evi kemudian direkrut oleh Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Sipil (LPMS) Poso sebagai fasilitator, untuk mendampingi mantan narapidana terorisme dalam pemberdayaan ekonomi. Pekerjaan ini membawanya ke Desa Kayamanya Poso Kota dan akhirnya ke Dusun Tamanjeka, yang terletak di kaki Gunung Biru.
Evi Tampakatu poses for a portrait on the porch outside her home in Poso, Central Sulawesi, where certificates of her peacebuilding achievements have been displayed on the walls.
Evi Tampakatu berpose di teras luar rumahnya di Poso, Sulawesi Tengah, Bersama dengan sertifikat pencapaiannya dalam pembangunan perdamaian yang dipajang di dinding.
Inspired by the children's warmth, Evi proposed a literacy program to the Poso Civil Society Empowerment Institute. Launched in early 2019, the initiative attracted around 80 children, providing them with books and activities like drawing and colouring.
Terinspirasi oleh kehangatan anak-anak di sana, Evi mengusulkan program literasi kepada LPMS. Diluncurkan pada awal tahun 2019, inisiatif tersebut menarik sekitar 80 anak dan ia pun menyediakan buku dan kegiatan untuk menggambar dan mewarnai.
The increased visibility paid off. In June 2021, Evi's work in Tamanjeka caught the attention of Densus 88, Indonesia's counter-terrorism unit, which collaborated with the Child Protection Integrated Community-based initiative to implement a deradicalization programme. A week later, on 23 June, 2021, residents formally pledged to reject radicalism and terrorism.
Peningkatan visibilitas itu membuahkan hasil. Pada Juni 2021, pekerjaan Evi di Tamanjeka menarik perhatian Densus 88, satuan anti terorisme Indonesia, yang bekerja sama dengan PATBM Poso untuk melaksanakan program deradikalisasi. Seminggu kemudian, pada 23 Juni 2021, warga secara resmi berjanji untuk menolak radikalisme dan terorisme.
In the same year, the Ministry of Women Empowerment and Child Protection introduced the Women-Friendly and Child- Caring Village programme in Tamanjeka. However, Evi believes more needs to be done. She emphasizes the importance of psychological support for children to prevent the resurgence of extremist ideologies.
"Children need ongoing support to ensure terrorist activities don't recur," she says.
By fostering trust and addressing deeply ingrained stigmas, she is but one of many women in Poso who have played an active role paving the way for a more inclusive and resilient community.
Pada tahun yang sama, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak meluncurkan program Desa Ramah Perempuan dan Peduli Anak di Tamanjeka. Namun, Evi yakin masih banyak yang perlu dilakukan. Ia menekankan pentingnya dukungan psikologis bagi anak-anak untuk mencegah munculnya kembali ideologi ekstremis.
"Anak-anak membutuhkan dukungan berkelanjutan untuk memastikan kegiatan teroris tidak terulang," katanya.
Dengan menumbuhkan rasa percaya dan mengatasi stigma yang sudah mengakar, ia hanyalah satu dari sekian banyak perempuan di Poso yang telah berperan aktif dalam membuka jalan bagi masyarakat yang lebih inklusif dan tangguh.
Boats moored along the waterfront in Poso City, Central Sulawesi.
Perahu ditambatkan di sepanjang tepi pantai di Kota Poso, Sulawesi Tengah.
"To women everywhere, my advice: Don't let anyone make you feel inadequate or unworthy."
"Kepada perempuan dimanapun kamu berada saya berpesan: Jangan biarkan siapapun membuatmu merasa tidak layak atau tidak pantas."
"Post-conflict reintegration is difficult when people are forced into peace without being heard," says Nurlaela "Ela" Lamasitudju. "The Government relied on security operations rather than dialogue, leaving unresolved anger and emotions that led to recurring conflicts."
"Reintegrasi pasca konflik sulit dilakukan ketika orang-orang dipaksa untuk berdamai tanpa didengarkan," jelas Nurlaela ‘Ela' Lamasitudju. "Pemerintah lebih mengandalkan operasi keamanan daripada dialog, sehingga kemarahan dan emosi yang tak kunjung terselesaikan berujung pada konflik yang terus berulang."
Ela is now the director of the Solidarity of Human Rights Violations Victims in Central Sulawesi (SKP-HAM Sulawesi Tengah), and was part of the organization's founding in 2004. The organization was established as a space for victims of human rights violations, including those from the Poso conflict, to gather, share their stories, and overcome traumatic experiences. "Victims need solidarity to build trust," Ela says.
In 2015, Ela returned to Buyu Katedo, her childhood hamlet, which had been devastated by the conflict.
Ela, yang kini menjabat sebagai Direktur Solidaritas Korban Pelanggaran HAM di Sulawesi Tengah (SKP-HAM Sulawesi Tengah), turut andil dalam pendirian organisasi tersebut pada 2004. SKP-HAM didirikan sebagai wadah bagi para korban pelanggaran HAM, termasuk korban konflik Poso, untuk berkumpul, berbagi cerita, dan mengatasi pengalaman traumatis. "Para korban membutuhkan solidaritas untuk membangun kepercayaan," jelas Ela.
Pada 2015, Ela kembali ke Buyu Katedo, dusun tempat ia dibesarkan yang hancur akibat konflik.
"The location of the massacre was feared, especially by women, who avoided even passing by," she recalls. Recognizing the need for healing and development, she established the Poso Learning House (Rumah Belajar Poso) in Buyu Katedo, in collaboration with Asia Justice and Rights (AJAR).
"Lokasi pembantaian itu ditakuti, terutama oleh kaum perempuan, yang bahkan enggan untuk lewat," kenang Ela. Menyadari perlunya upaya pemulihan dan pembangunan, ia mendirikan Rumah Belajar Poso di Buyu Katedo, bekerja sama dengan Asia Justice and Rights (AJAR).
Nurlaela "Ela" Lamasituju helps Masria Toana make banana chips.
Nurlaela "Ela" Lamasituju membantu Masria Toana membuat keripik pisang.
"Rumah Belajar became a space where Christians could feel safe visiting Buyu Katedo again and where residents could relearn acceptance," Ela says.
"Rumah Belajar menjadi tempat di mana orang-orang Kristen dapat merasa aman untuk kembali mengunjungi Buyu Katedo dan tempat para penduduk dapat belajar kembali untuk menerima mereka," jelas Ela.
Conversations at these sessions often began with everyday concerns, such as the state of their cocoa crops. "When asked, ‘Since when have your cocoa plants been damaged?' they would answer, ‘Since the massacre.' That realization helped them connect the conflict's impact to their economic struggles," Ela notes.
Through training, women learned to create higher value products like banana chips, coconut bajabu (a traditional snack of fish floss mixed with coconut shavings), generating income and thereby fostering greater resilience. "When women are empowered, they become pillars of their families, creating stability and strength," Ela says.
Percakapan dalam sesi-sesi ini seringkali dimulai dengan masalah yang ditemui sehari-hari, seperti kondisi tanaman kakao mereka. "Ketika ditanya, ‘Sejak kapan tanaman kakao rusak?' mereka akan menjawab, ‘Sejak pembantaian.' Kesadaran itu membantu mereka menghubungkan dampak konflik dengan perjuangan ekonomi mereka," catat Ela.
Melalui pelatihan, para perempuan belajar membuat produk bernilai tinggi seperti keripik pisang, bajabu (camilan tradisional berupa abon ikan yang dicampur dengan parutan kelapa), menghasilkan pendapatan tambahan, sampai menumbuhkan ketangguhan yang lebih baik. "Ketika perempuan diberdayakan, mereka menjadi pilar keluarga mereka, menciptakan stabilitas dan kekuatan," kata Ela.
Beyond economic empowerment, Rumah Belajar provided a space for women to process their trauma and share experiences. "They support each other as peers, helping to heal psychologically from the conflict," Ela says. She emphasizes the critical role women play in building peace: "Women inherently desire peace — for themselves, their families, and their communities."
Ela believes women are essential in preventing future conflicts. "Their empowerment not only strengthens their families but also ensures that the cycle of violence does not repeat," she says.
Selain pemberdayaan ekonomi, Rumah Belajar menyediakan ruang bagi perempuan-perempuan di Buyu Katedo untuk mengurai trauma mereka dan berbagi pengalaman."Mereka saling mendukung sebagai teman sebaya, membantu penyembuhan psikologis dari konflik," kata Ela. Ia menekankan peran penting yang dimainkan perempuan dalam membangun perdamaian: "Perempuan pada dasarnya menginginkan perdamaian—untuk diri mereka sendiri, keluarga mereka, dan komunitas mereka."
Ela percaya bahwa peran perempuan sangat penting dalam mencegah konflik di masa mendatang. "Pemberdayaan perempuan tidak hanya memperkuat keluarga mereka tetapi juga memastikan bahwa siklus kekerasan tidak terulang," katanya.
By addressing basic needs, fostering dialogue, and creating opportunities for healing and empowerment, Ela's work at Rumah Belajar has become a model for rebuilding trust and resilience in post-conflict communities. The initiative offers hope that, even in places marked by tragedy, a strong sense of community spirit can be revived.
Dengan program-program untuk pemenuhan kebutuhan dasar, mendorong dialog, dan menciptakan peluang untuk pemulihan dan pemberdayaan, pekerjaan Ela di Rumah Belajar telah menjadi model untuk membangun kembali kepercayaan dan ketahanan di komunitas pascakonflik. Prakarsa ini menawarkan harapan bahwa, bahkan di tempat-tempat yang memiliki cerita tragedi, semangat komunitas yang kuat dapat dihidupkan kembali.
Nurlaela "Ela" Lamasituju and Masria Toana, whom she has been supporting in Buyung Katedo, a village labelled as vulnerable to terrorism, pick vegetables in Masria's garden.
"Ela" Nurlaila Lamasituju dan Masria Toana, perempuan yang selama ini ia dampingi di Buyung Katedo, desa yang dianggap rentan terhadap terorisme, memetik sayuran di kebun Masria.
One of the women supported by Nurlaela Lamasitudju slices unripe bananas into hot oil in her kitchen in Buyu Katedo using a mandolin. The bananas are fried into chips, packaged, and then sold at local markets in Poso, Central Sulawesi.
Salah satu perempuan yang didampingi Nurlaela Lamasitudju mengiris pisang mentah dan menggoreng ke dalam minyak panas di dapurnya di Buyu Katedo dengan menggunakan mandolin. Pisang tersebut digoreng menjadi keripik, dikemas, dan kemudian dijual di pasar-pasar lokal di Poso, Sulawesi Tengah.
Nurlaela Lamasitudju peels bananas to prepare them for frying into chips. They are preparing snacks in the kitchen of one of the women she supports with economic empowerment opportunities in Buyu Katedo, Central Sulawesi.
Nurlaela Lamasitudju mengupas pisang untuk digoreng menjadi keripik. Mereka menyiapkan camilan di dapur salah satu perempuan yang ia bantu melalui pemberdayaan ekonomi di Buyu Katedo, Sulawesi Tengah.
Nurlaela Lamasitudju and one of the women supported through her economic empowerment programmes harvest vegetables from her garden in Buyu Katedo, Central Sulawesi.
Nurlaela Lamasitudju dan salah satu perempuan yang terlibat dalam program pemberdayaan ekonomi memanen sayuran dari kebunnya di Buyu Katedo, Sulawesi Tengah.
Nurlaela Lamasitudju delivers a training session on women's rights at her home in Buyu Katedo, Central Sulawesi.
Nurlaela Lamasitudju memberikan sesi pelatihan tentang hak-hak perempuan di rumahnya di Buyu Katedo, Sulawesi Tengah.
"To Women, find the best qualities in yourself, and be them. Find comfort in your heart, and smile. Find strength in your veins, and be a beacon of peace."
"Kepada Kaum Perempuan, Temukan Kualitas terbaik dari dirimu, dan jadilah diri itu. Temukan Kenyamanan dalam batinmu, dan tersenyumlah. Temukan Kekuatan dalam nadimu, dan jadilah suluh untuk perdamaian."
Her mission began when she learned about Hangkalea, a "woman king" who led her tribe as Tina Ngata over 200 years ago. Colonizers imposed patriarchal norms by replacing Hangkalea with her younger brother. Through conversations with village elders, Rukmini discovered that Hangkalea was her distant ancestor. This revelation deepened her resolve to revive the role, not only as a tribute to her heritage but also as a step toward empowering women and addressing challenges faced by her community.
Misinya dimulai ketika dia mengetahui tentang Hangkalea, seorang "Raja Perempuan" yang memimpin sukunya sebagai Tina Ngata lebih dari 200 tahun yang lalu. Para penjajah datang memaksakan norma-norma patriarki. Mereka mengganti Hangkalea dengan adik laki-lakinya. Rukmini membangun komunikasi dengan para tetua desa dan mengetahui bahwa Hangkalea adalah leluhur jauhnya. Pengetahuan ini memperkuat tekadnya untuk menghidupkan kembali peran tersebut, tidak hanya sebagai penghormatan terhadap warisan leluhur, tetapi juga sebagai langkah untuk memberdayakan perempuan dan mengatasi tantangan yang dihadapi oleh komunitasnya.
Toro village, like many indigenous communities in Indonesia, has faced long standing disputes over land rights. The community's ancestral lands, integral to their livelihood, came under threat despite their long generational claim. In 2000, a significant breakthrough was achieved when the Kulawi people, under Rukmini's leadership as Tina Ngata, secured formal recognition of their customary land from the Lore Lindu National Park Office. This agreement also established collaborative management practices between the community and the park authorities.
Desa Toro, seperti banyak komunitas adat di Indonesia, menghadapi sengketa hak atas tanah yang sudah berlangsung lama. Tanah leluhur masyarakat terancam, padahal tanah tersebut merupakan bagian penting dari mata pencaharian mereka yang telah dimiliki secara turun-temurun. Pada tahun 2000, terobosan signifikan dicapai ketika masyarakat Kulawi, di bawah kepemimpinan Rukmini sebagai Tina Ngata, mendapatkan pengakuan resmi atas tanah adat mereka dari Kantor Taman Nasional Lore Lindu. Pengakuan ini juga menetapkan praktik pengelolaan kolaboratif antara masyarakat dan otoritas Taman Nasional.
Rukmini Paata Toheke and her family have lunch together in the kitchen of their home in Toro Village, Central Sulawesi.
Rukmini Paata Toheke dan keluarganya makan siang bersama di dapur rumah mereka di Desa Toro, Sulawesi Tengah.
Rukmini credits her approach, which prioritized participatory mapping and inclusive negotiation, for achieving progress where others had struggled. "As Tina Ngata, we involved the entire community in defining our territory and worked directly with government officials, unlike earlier efforts," she says.
Since the restoration of the Tina Ngata role, Rukmini has dedicated herself to preserving and modernizing Kulawi traditions. She has led initiatives to rebuild traditional houses (lobo) and teach Toro youth about their cultural heritage and values.
Rukmini menganggap pendekatannya yang mengutamakan pemetaan partisipatif dan negosiasi inklusif, telah mencapai keberhasilan atas apa yang mereka perjuangkan. "Sebagai Tina Ngata, kami melibatkan seluruh masyarakat dalam menentukan wilayah kami dan bekerja langsung dengan pejabat pemerintah, tidak seperti sebelumnya," jelasnya.
Sejak dipulihkannya peran Tina Ngata, Rukmini telah mengabdikan dirinya untuk melestarikan dan memodernisasi tradisi Kulawi. Ia telah memimpin inisiatif untuk membangun kembali rumah-rumah tradisional (lobo) dan mengajarkan pemuda Toro tentang warisan dan nilai-nilai budaya mereka.
She has also sought to challenge outdated customs that disadvantage women. One notable success was advocating for changes to inheritance laws. Previously, women's assets often bypassed their children and were transferred to male relatives, regardless of the woman's wishes. Rukmini argued that the practice constituted cultural discrimination against women, prompting the village head to amend this customary law.
Ia juga melawan adat istiadat kuno yang merugikan perempuan. Salah satu keberhasilan penting yang dicapai adalah mengadvokasi perubahan hukum waris. Sebelumnya, aset perempuan sering kali dialihkan ke kerabat laki-laki bukan ke anak-anak mereka, tanpa memperdulikan wasiat perempuan yang mewariskannya. Rukmini berpendapat bahwa praktik tersebut merupakan diskriminasi budaya terhadap perempuan dan berhasil mendorong kepala desa untuk mengubah hukum adat ini.
The Kulawi tribe is one of 12 ethnic groups in Central Sulawesi, known for its history of women's leadership. Rukmini says that while roles similar to Tina Ngata have been reinstated in neighbouring communities, many remain symbolic, with men still dominating decision-making forums. "Women are often relegated to ceremonial roles, especially during rituals to welcome guests," she says. To change this dynamic, she is engaging with community leaders and serving as a role model to bring more women into leadership roles.
Suku Kulawi adalah salah satu dari 12 kelompok etnis di Sulawesi Tengah yang dikenal karena sejarah kepemimpinan perempuannya. Rukmini mencatat bahwa meskipun peran yang mirip dengan Tina Ngata telah dipulihkan di komunitas tetangga, banyak yang masih bersifat simbolis, dimana laki-laki masih mendominasi forum pengambilan keputusan. "Perempuan sering kali hanya diturunkan ke peran seremonial, terutama selama ritual menyambut tamu," ungkapnya. Untuk mengubah dinamika ini, ia melibatkan para pemimpin komunitas dan para tokoh, untuk melibatkan lebih banyak perempuan dalam peran- peran kepemimpinan.
Rukmini's vision extends beyond cultural revival. She is working closely with other Tina Ngata in the Alliance of Indigenous People of the Archipelago (AMAN) Sulawesi network to adapt traditional knowledge to contemporary challenges, such as disaster preparedness and food security. The importance of these efforts was highlighted during the 2018 earthquake which severed road access to Toro village for three weeks. Despite the isolation, the village's robust food reserves ensured they could not only sustain themselves but also share resources with neighboring communities.
Visi Rukmini melampaui kebangkitan budaya. Ia bekerja sama dengan Tina Ngata lainnya dalam jaringan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi untuk mengadaptasi pengetahuan tradisional dengan tantangan kontemporer, seperti kesiapsiagaan bencana dan ketahanan pangan. Pentingnya upaya ini disorot selama gempa bumi tahun 2018 yang memutus akses jalan ke desa Toro selama tiga minggu. Meskipun terisolasi, cadangan pangan desa yang kuat memastikan mereka tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan sendiri, tetapi juga berbagi sumber daya dengan masyarakat sekitar.
Toro village remains celebrated for its high-quality rice, durian, and cocoa, with traditional rituals continuing to express gratitude for bountiful harvests. For Rukmini, these practices symbolize the resilience and unity of her community. As she works to strengthen women's leadership, she hopes to build a future where traditions and progress coexist to benefit all.
Desa Toro tetap terkenal dengan beras, durian, dan kebun coklatnya yang berkualitas tinggi, selain ritual tradisional yang terus berlanjut untuk mengungkapkan rasa syukur atas panen yang melimpah. Bagi Rukmini, praktik-praktik ini melambangkan ketahanan dan persatuan komunitasnya. Sembari berupaya memperkuat kepemimpinan perempuan, ia berharap dapat membangun masa depan di mana tradisi dan kemajuan jaman dapat hidup berdampingan demi memberi manfaat bagi semua.
Rukmini Paata Toheke shows some rice she has harvested from her paddy fields in Toro Village, Central Sulawesi.
Rukmini Paata Toheke menunjukkan beberapa padi yang dipanen dari sawahnya di Desa Toro, Sulawesi Tengah.
Children and other members of the community perform an old Kulawi song at night, dressed in their traditional ethnic clothing in Toro Village, Central Sulawesi.
Anak-anak dan anggota masyarakat lainnya membawakan lagu lama Kulawi di malam hari, mengenakan pakaian adat tradisional setempat di Desa Toro, Sulawesi Tengah.
Rukmini Paata Toheke gets ready in traditional dress ahead of the Lore Lindu festival in Sigi, Central Sulawesi.
Rukmini Paata Toheke bersiap mengenakan pakaian adat menjelang festival Lore Lindu di Sigi, Sulawesi Tengah.
Rukmini Paata Toheke attends the Lore Lindu festival with other women leaders from nearby ethnic communities in Sigi, Central Sulawesi.
Rukmini Paata Toheke menghadiri festival Lore Lindu bersama para pemimpin perempuan lainnya dari komunitas etnis terdekat di Sigi, Sulawesi Tengah.
Rukmini Paata Toheke gives a lesson in traditional wisdom to the youths of Toro Village, Central Sulawesi.
Rukmini Paata Toheke mengajarkan tentang kearifan tradisional kepada para pemuda Desa Toro, Sulawesi Tengah.
"My message as Tina Ngata Toro to young women: Maintain your dignity, play your part in maintaining peace and the earth, and always maintain the wisdom of your ancestors."
"Pesan saya sebagai Tina Ngata Toro kepada perempuan muda, Pertahankan martabatmu, jalankan peranmu dalam menjaga perdamaian dan bumi, dan selalu jaga kearifan leluhur."
The Marena people demanded that their land be returned. Yeni, leveraging her position as a Tina Boya, participated in key meetings with local leaders and non-governmental organizations. These interactions opened her eyes to community issues and democratic processes.
After years of protests, an agreement was reached in 2001. Half of the reclaimed land was allocated for communal use — such as for infrastructure and burial grounds — while the remaining half was distributed among the 100 Marena households. Each family received a plot for housing and farmland.
Masyarakat Marena menuntut agar tanah mereka dikembalikan. Yeni, memanfaatkan posisinya sebagai Tina Boya, berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan penting dengan para pemimpin lokal dan organisasi non-pemerintah. Interaksi-interaksi ini membuka matanya terhadap isu-isu masyarakat dan proses- proses demokrasi.
Setelah bertahun-tahun melakukan protes, sebuah kesepakatan dicapai pada tahun 2001. Setengah dari tanah reklamasi dialokasikan untuk penggunaan komunal, termasuk infrastruktur dan tempat pemakaman, sementara setengah sisanya didistribusikan ke 100 rumah tangga Marena. Setiap keluarga menerima sebidang tanah untuk perumahan dan lahan pertanian.
Despite this victory, challenges persisted. Access to the Lore Lindu National Park, which the Marena people had sustainably managed for generations, remained restricted under conservation regulations. "For us, the forest is like our body — its wood is our veins, and its trees are our bones," Yeni says, reflecting the community's deep connection to the land.
Tensions escalated in 2007 when park authorities opened fire on three villagers working on customary land. Outraged, the community convened a customary court through the Marena Customary Institution. Yeni, now a member of the Marena Village Customary Council, participated in mediating the conflict.
Meskipun menang, tantangan tetap ada. Akses ke Taman Nasional Lore Lindu, yang dikelola secara berkelanjutan oleh masyarakat Marena selama beberapa generasi, tetap dibatasi oleh peraturan konservasi. "Bagi kami, hutan seperti tubuh kami, kayunya adalah urat nadi kami, dan pohonnya adalah tulang kami," kata Yeni, yang mencerminkan hubungan mendalam masyarakat dengan tanah leluhurnya.
Ketegangan meningkat pada tahun 2007 ketika terjadi insiden penembakan oleh otoritas taman, saat tiga penduduk desa bekerja di tanah adat. Masyarakat yang marah kemudian menggelar pengadilan adat melalui Lembaga Adat Marena. Yeni, yang sekarang menjadi anggota Dewan Adat Desa Marena, ikut serta dalam memediasi konflik tersebut.
An aerial view of the lush mountains surrounding Toro village, located close to Marena hamlet, Central Sulawesi.
Pemandangan udara pegunungan subur di sekitar Desa Toro, terletak dekat Dusun Marena, Sulawesi Tengah.
The Marena community achieved another milestone in 2013 when their hamlet was officially recognized as a village under Sigi Regency Regional Regulation No. 28/2013.
As the community evolved, Yeni's role expanded. Her title as Tina Boya transitioned to Tina Ngata, reflecting her position as a respected traditional leader in Marena Village. The Tina Ngata advises on agricultural practices, mediates disputes, and upholds local wisdom, ensuring harmony within the community.
Masyarakat Marena mencapai tonggak sejarah lainnya pada tahun 2013 ketika dusun mereka secara resmi diakui sebagai desa berdasarkan Peraturan Daerah Kabupaten Sigi No. 28/2013.
Seiring dengan perkembangan komunitas, peran Yeni pun meluas. Gelarnya sebagai Tina Boya naik pangkat menjadi Tina Ngata, yang mencerminkan posisinya sebagai pemimpin adat yang disegani di Desa Marena. Tina Ngata memberikan nasihat tentang praktik pertanian, menjadi mediator perselisihan, dan menjunjung tinggi kearifan lokal, serta memastikan keharmonisan dalam komunitas.
"Being a Tina Ngata is hard," Yeni says, "but I was chosen because the community and village head believed in my potential to contribute." Yeni likens herself to a pencil: tough, enduring, and always ready to be sharpened. As the Marena community prepares to celebrate the 11th anniversary of its village status in December 2024, she and the Marena people celebrate not only their reclaimed land but also inspire other ethnic communities to fight for their rights within the region.
"Menjadi Tina Ngata itu sulit," Yeni mengakui, "tetapi saya dipilih karena komunitas dan kepala desa percaya pada potensi saya untuk berkontribusi." Yeni mengibaratkan dirinya sebagai pensil: kuat, tahan lama, dan selalu siap diasah. Saat komunitas Marena bersiap merayakan ulang tahun ke-11 status desanya pada bulan Desember 2024, Yeni dan masyarakat Marena tidak hanya merayakan tanah yang berhasil mereka rebut kembali, tapi juga menginspirasi komunitas etnis lain untuk memperjuangkan hak-hak mereka di wilayah masing-masing.
Yeni Lancia poses for a portrait at home in her garden in Marena, Central Sulawesi.
Yeni Lancia berpose di kebun rumahnya di Marena, Sulawesi Tengah.
"I urge women to be braver in fighting for our rights. Don't be considered just a companion and complement. Be a brave woman for justice and learn together in making decisions."
"Saya menghimbau Perempuan-perempuan untuk lebih berani berjuang untuk hak-hak kita. Jangan mau dianggap Pendamping dan Pelengkap saja. Jadilah perempuan yang gagah demi keadilan dan belajar bersama dalam mengambil keputusan."
Fitrah confronted them directly: "If your wives, children, and family members wanted to talk about their problems, would you be there for them?" Her question was met with silence until one man admitted, "We don't have the time to listen to our wives because we're busy finding work."
Fitrah langsung menegur mereka: "Jika istri, anak-anak, dan anggota keluarga Anda ingin membicarakan masalah mereka, apakah Anda akan ada untuk mereka?" Pertanyaannya ditanggapi dengan diam, sampai seorang laki-laki mengakui, "Kami tidak punya waktu untuk mendengarkan istri kami karena kami sedang sibuk mencari pekerjaan."
This encounter underscored for Fitrah how disasters affected men and women differently. It also reinforced the need for spaces where women could voice their concerns without fear. Now, years later, Fitrah continues to advocate for women in the permanent settlement relocation area of Sibalaya Utara village in Sigi Regency. A survivor herself, she has become a leader and voice for her community.
The disaster left more than 4,800 people dead, displaced over 170,000, and destroyed 110,000 homes. Fitrah, visiting her cousin at the time, recalls the terror she felt as she thought of her mother's safety in their home village. Her family was safe, but she had to separate from them in order to help bring them aid.
Fitrah menjadi paham bahwa bencana dapat memengaruhi pria dan perempuan secara berbeda. Hal ini juga memperkuat perlunya ruang dimana perempuan dapat menyuarakan keprihatinan mereka tanpa rasa takut. Kini, bertahun-tahun kemudian, Fitrah terus mengadvokasi para perempuan di daerah relokasi pemukiman permanen Desa Sibalaya Utara di Kabupaten Sigi. Sebagai penyintas, ia telah menjadi pemimpin dan juru bicara bagi komunitasnya.
Bencana tersebut menewaskan lebih dari 4.800 orang, membuat lebih dari 170.000 orang mengungsi, dan menghancurkan sedikitnya 110.000 rumah. Fitrah, yang pada waktu kejadian sedang mengunjungi sepupunya, mengingat ketakutan yang ia rasakan saat memikirkan keselamatan ibunya di desa asal mereka. Keluarganya aman, tetapi ia harus berpisah dari mereka untuk membantu membawakan bantuan.
Fitrah and other women from her community chat outside in the Sibalaya Utara displacement camp gardens, Sigi, Central Sulawesi.
Fitrah dan perempuan lain dari komunitasnya berbincang di kebun kamp pengungsian Sibalaya Utara, Sigi, Sulawesi Tengah.
Her experience during the disaster inspired Fitrah to pursue a leadership role in her community. With strong support from residents, she ran for a position in her village council. She not only secured a seat on the Village Consultative Body (BPD) but also received the highest number of votes in the election.
Pengalamannya selama bencana menginspirasi Fitrah untuk mengejar peran kepemimpinan di masyarakatnya. Dengan dukungan kuat dari warga, ia mencalonkan diri untuk menduduki jabatan di Badan Perwakilan Desa (BPD). Ia tidak hanya memperoleh kursi di BPD, tetapi juga memperoleh suara terbanyak dalam pemilihan tersebut.
As the youngest member of the council, Fitrah has become a focal point for advocacy on women's and children's issues. Partnering with the Child Protection and Study Center Foundation (Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak), she has helped address domestic violence cases and other threats to women and children's safety.
Sebagai anggota dewan termuda, Fitrah telah menjadi titik fokus advokasi isu-isu perempuan dan anak-anak. Bermitra dengan Yayasan Pusat Kajian dan Perlindungan Anak, ia telah membantu menangani kasus-kasus kekerasan dalam rumah tangga dan ancaman lain terhadap keselamatan perempuan dan anak-anak.
Her work extends beyond formal duties. Villagers often turn to her for help at any hour, trusting her to intervene in emergencies. In one notable case, she helped prevent a child marriage. Neighbours brought the child to Fitrah, who provided protection and guidance until the child understood her rights and could resist the pressure to marry early.
Pekerjaannya melampaui tugas-tugas formal. Warga desa sering meminta bantuannya kapan saja, mempercayainya untuk campur tangan dalam keadaan darurat. Dalam satu kasus penting, ia membantu mencegah pernikahan dini. Para tetangga membawa anak tersebut ke Fitrah yang kemudian memberikan perlindungan dan bimbingan hingga anak tersebut memahami hak-haknya dan mampu menolak tekanan untuk menikah dini. Sebagai anggota Badan Permusyawaratan Desa, Fitrah berjuang untuk pemenuhan hak perempuan di desanya.
Fitrah remains an active volunteer with LIBU Perempuan, leading workshops on gender-based violence in her spare time. Her efforts aim to empower women and foster a culture of mutual respect and equality in her community.
Fitrah tetap menjadi relawan aktif di LIBU Perempuan, memimpin lokakarya tentang kekerasan berbasis gender di waktu luangnya serta mendampingi korban kekerasan seksual. Upayanya bertujuan untuk memberdayakan perempuan dan menumbuhkan budaya saling menghormati dan kesetaraan di komunitasnya.
Her journey from a survivor of disaster to a leader in her village underscores the importance of women's leadership in building resilient and inclusive communities. Through her work, Fitrah has become a symbol of hope and change for the women and children of Sigi Regency.
Perjalanannya dari seorang penyintas bencana menjadi seorang pemimpin di desanya menggarisbawahi pentingnya kepemimpinan perempuan dalam membangun masyarakat yang tangguh dan inklusif. Melalui pekerjaannya, Fitrah telah menjadi simbol harapan dan perubahan bagi perempuan dan anak-anak di Kabupaten Sigi.
Fitrah leads a gender-based violence awareness workshop in her home at Sibalaya Utara displacement camp, Sigi, Central Sulawesi.
Fitrah memfasilitasi lokakarya untuk membangun kesadaran tentang kekerasan berbasis gender di rumahnya di kamp pengungsian Sibalaya Utara, Sigi, Sulawesi Tengah.
Fitrah and members of her community chat outside her house in Sibalaya Utara displacement camp, Sigi, Central Sulawesi.
Fitrah dan komunitasnya ngobrol di luar rumahnya di kamp pengungsian Sibalaya Utara, Sigi, Sulawesi Tengah
A view of the temporary houses that make up the Sibalaya Utara displacement camp, Sigi, Central Sulawesi.
Pemandangan hunian sementara yang menjadi bagian dari kamp pengungsian Sibalaya Utara, Sigi, Sulawesi Tengah.
Fitrah hugs her daughter outside their home in Sibalaya Utara displacement camp, Sigi, Central Sulawesi.
Fitrah memeluk putrinya di luar rumah mereka di kamp pengungsian Sibalaya Utara, Sigi, Sulawesi Tengah.
A birds-eye view of Sibalaya Utara displacement camp, Sigi, Central Sulawesi.
Pemandangan kamp pengungsian Sibalaya Utara, Sigi, Sulawesi Tengah.
"My message to my female friends: Keep being yourself, dare to speak up and never give up"
"Pesan saya untuk teman-teman perempuan, Tetap jadi diri sendiri, berani bersuara dan pantang menyerah"
Bertha was one of four women assigned as refugee pastors during the crisis.
Her responsibilities went beyond spiritual services; she lived among the displaced people in the camps, assisting with evacuations, distributing aid, and offering emotional support. The conditions she encountered left a lasting impression. "Children who once played freely at home were suddenly living in a foreign area, confined to displacement camps," she recalls. On one occasion, Bertha even assisted with childbirth in the camp.
Bertha adalah satu dari empat perempuan yang ditugaskan sebagai pendeta pengungsi selama krisis tersebut.
Tanggung jawabnya tidak hanya memberikan pelayanan rohani. Ia juga tinggal di antara para pengungsi di tenda- tenda, membantu evakuasi, mendistribusikan bantuan, dan memberikan dukungan emosional. Kondisi yang ia temui di sana meninggalkan kesan yang mendalam. "Anak-anak yang dulunya bermain bebas di rumah tiba-tiba harus tinggal di daerah asing, terkurung di kamp-kamp pengungsian," kenangnya. Pada suatu kesempatan, Bertha bahkan membantu persalinan di kamp tersebut.
She saw how women bore the brunt of the displacement. Many had to adapt quickly, taking on tasks such as washing clothes for others to help provide an income for their families. "Women had the motivation to fight for survival," she says, while many men she counselled struggled after being uprooted from their land and agricultural work.
Bertha mengamati bahwa perempuan menanggung beban pengungsian. Banyak yang harus beradaptasi dengan cepat, mengerjakan tugas-tugas seperti mencuci pakaian untuk orang lain agar memiliki penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka. "Perempuan memiliki motivasi untuk berjuang demi bertahan hidup," katanya, dan di saat yang sama, banyak pria yang membutuhkan konseling karena, merasa kesulitan setelah terusir dari tanah dan pekerjaan pertanian mereka.
The conflict, which lasted from December 1998 to December 2001, claimed 577 lives and destroyed nearly 8,000 homes, displacing hundreds of thousands of residents. Bertha was tasked with supporting congregations in five displacement locations, traveling between them to provide spiritual and emotional guidance.
Konflik yang berlangsung dari Desember 1998 hingga Desember 2001 itu merenggut 577 nyawa dan menghancurkan hampir 8.000 rumah, menyebabkan ratusan ribu penduduk mengungsi. Bertha ditugaskan untuk melayani jemaat di lima lokasi pengungsian, mengunjungi lokasi-lokasi itu untuk memberikan bimbingan rohani dan emosional.
Bertha Lasampa poses for a portrait outside her home in Tentena, Central Sulawesi.
Bertha Lasampa berpose di luar rumahnya di Tentena, Sulawesi Tengah.
Her work has not been without gendered challenges too. After the immediate crisis ended, she was reassigned to general congregations. "Some congregations would ask for a male pastor instead of a female one," she recalls. However, she persevered, drawing strength from mentors like Pastor Agustina Lakakua, the first woman to chair the GKST Synod. Pastor Agustina had visited Bertha's high school many years ago and she had made a profound impact. "Her presence eroded the patriarchal culture, showing that women could lead the church," she says.
Pekerjaannya juga tidak luput dari tantangan. Setelah krisis berakhir, Bertha dipindahkan ke jemaat umum. "Beberapa jemaat meminta pendeta laki-laki, bukan perempuan," kenangnya. Namun, ia bertahan, dan memperoleh kekuatan dari para mentor seperti Pendeta Agustina Lakakua, perempuan pertama yang memimpin Sinode GKST. Pendeta Agustina pernah mengunjungi sekolah menengah Bertha beberapa tahun yang lalu dan ia telah memberikan dampak yang mendalam. "Kehadirannya mengikis budaya patriarki, menunjukkan bahwa perempuan dapat memimpin gereja," katanya.
Bertha has carried this collaborative spirit forward. She now encourages young women to enter theological studies, supports women to enter into local governance, organizing training programs for church leaders, including young women, to build their capacity.
One of her key initiatives has been advocating for survivors of gender-based violence. Recognizing the growing need for church leaders to address this issue, she has implemented advocacy training for pastors. "The numbers here continue to increase, so we must prepare leaders to assist survivors," she says. The church has also signed an MOU with Poso's Women Empowerment and Child Protection Service to provide immediate support for survivors.
Bertha telah meneruskan semangat kolaboratif ini. Ia kini mendorong perempuan-perempuan muda untuk mempelajari teologi, mendukung perempuan masuk di jajaran pemerintahan lokal, menyelenggarakan program pelatihan bagi para pemimpin gereja, termasuk perempuan muda, untuk membangun kapasitas mereka.
Salah satu inisiatif utama Bertha adalah mengadvokasi para penyintas kekerasan berbasis gender. Menyadari semakin tingginya kebutuhan pemimpin gereja untuk menangani masalah ini, ia pun melaksanakan pelatihan advokasi bagi para pendeta. "Jumlah kasusnya terus meningkat, jadi kita harus menyiapkan pemimpin jemaat untuk membantu para penyintas," jelasnya. Gereja juga telah menandatangani Nota Kesepahaman dengan Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Poso untuk memberikan dukungan langsung bagi para penyintas.
Today, women make up two-thirds of the approximately 600 GKST pastors, a significant shift from the past. "Now it's difficult to find male pastors," Bertha says. She sees this as a positive development but stresses the importance of continued capacity- building for female pastors. "The goal is for women to be better accepted in society and recognized as leaders who can guide their congregations toward progress and resilience," she says.
Saat ini, dua pertiga dari sekitar 600 pendeta GKST adalah perempuan, sebuah perubahan signifikan dari masa lalu. "Sekarang sulit untuk menemukan pendeta laki-laki," kata Bertha. Ia melihat ini sebagai perkembangan yang positif tetapi menekankan pentingnya pengembangan kapasitas yang berkelanjutan bagi pendeta perempuan. "Tujuannya adalah agar perempuan lebih diterima di masyarakat dan diakui sebagai pemimpin yang dapat membimbing jemaat mereka menuju kemajuan dan ketangguhan," katanya.
An aerial view of Masjid Jami Baitullah Tentena, Central Sulawesi.
Pemandangan dari udara Masjid Jami Baitullah Tentena, Sulawesi Tengah.
"To women, I have a message: Women are God's extraordinary creations, who have the strength to face any challenge or difficulty. Therefore, as women we must dare to face any challenge or problem because women have extraordinary abilities that God has bestowed within them."
Women must be at the forefront to fight for women in justice because within women there is a natural ability that God has bestowed to be an agent of peace.
Don't be afraid women can do it."
"Kepada perempuan saya berpesan, Perempuan adalah ciptaan Tuhan yang luar biasa, yang memiliki kekuatan untuk menghadapi tantangan atau kesulitan apapun, karena itu sebagai perempuan harus berani menghadapi tantangan atau masalah apapun karena perempuan memiliki kemampuan yang luar biasa yang Tuhan karuniakan di dalam dirinya.
Perempuan harus ada di garda terdepan untuk memperjuangkan perempuan dalam keadilan karena dalam diri perempuan ada kemampuan alami yang Tuhan karuniai untuk menjadi agen perdamaian.
Jangan takut perempuan pasti bisa."
Martince's involvement with Mosintuwu Institute began in 2012 when she joined the first batch of the Women School programme as a participant herself. The curriculum not only empowered women to take active roles in community development but also fostered dialogue across religious and cultural divides. For Martince, this was deeply transformative.
As a survivor of the 2000 riots, she had carried deep resentment toward Muslims, stemming from a traumatic attack on her village of Bukit Bambu. Masked extremists invaded her home, forcing her to flee with her infant and toddler while being separated from her husband. The violence left invisible scars, and her anger fueled a hatred for those she perceived as responsible.
Keterlibatan Martince dengan Institut Mosintuwu dimulai pada tahun 2012 ketika ia sendiri bergabung dengan kelompok pertama program Sekolah Perempuan. Kurikulumnya tidak hanya pemberdayaan perempuan untuk mengambil peran aktif dalam pengembangan masyarakat, tetapi juga mendorong dialog lintas agama dan budaya. Bagi Martince, hal ini sangat transformatif.
Sebagai penyintas kerusuhan tahun 2000, ia sempat menyimpan dendam mendalam pada umat Muslim akibat serangan traumatis di desanya, Bukit Bambu. Para ekstremis bertopeng menyerbu rumahnya, memaksanya melarikan diri bersama bayi dan balitanya saat terpisah dari suaminya. Kekerasan tersebut meninggalkan bekas luka yang tak terlihat dan kemarahannya memicu kebencian terhadap mereka yang dianggapnya bertanggung jawab.
Through Mosintuwu's interfaith dialogues, however, Martince began to heal. The Women School facilitated discussions on religion, tolerance, and peacebuilding, bringing participants into each other's places of worship to foster understanding.
Namun, melalui dialog antaragama Mosintuwu, Martince mulai pulih. Sekolah Perempuan memfasilitasi diskusi tentang agama, toleransi, dan pembangunan perdamaian, dengan mengajak para peserta ke tempat ibadah agama lain untuk menumbuhkan pemahaman.
Muslim members of the community await Martince's arrival to teach a permaculture workshop in Lape village, Central Sulawesi.
Warga Muslim menunggu kedatangan Martince untuk mengajarkan permakultur di desa Lape, Sulawesi Tengah.
Martince now channels her experience into rebuilding communities and strengthening their resilience. Food security is a cornerstone of these efforts, and permaculture workshops are a key component of the Village Reform School program.
On one afternoon in Lape Village, Martince joins ten Muslim women to prepare a communal garden. Together, they tilled the soil, planted seeds like morning glory, chili, eggplant, and tomatoes, and learned how to make organic compost.
Martince kini membagikan pengalamannya untuk membangun kembali masyarakat dan memperkuat ketahanan mereka. Ketahanan pangan merupakan landasan dari upaya ini, dan lokakarya permakultur merupakan komponen utama dari program Sekolah Reformasi Desa.
Pada suatu sore di Desa Lape, Martince bergabung dengan sepuluh perempuan Muslim untuk menyiapkan kebun bersama. Bersama-sama mereka mengolah tanah, menanam benih seperti kangkung, cabai, terong, dan tomat, serta belajar cara membuat kompos organik.
For Martince, working alongside Muslim women today is a testament to how far she and her community have come. "I am very happy to be among these ladies," she says with a smile. Their camaraderie feels as though it has existed for decades, even though their interactions began only two years ago.
Bagi Martince, bekerja bersama perempuan Muslim saat ini merupakan bukti seberapa jauh ia dan komunitasnya telah berkembang. "Saya sangat senang berada di antara ibu-ibu ini," katanya sambil tersenyum. Keakraban mereka terasa seolah telah terjalin selama beberapa dekade, meskipun interaksi mereka baru dimulai dua tahun lalu.
The garden is more than a source of food; it represents a step toward economic stability and self-reliance. Villagers can now grow vegetables for their households, reducing the need to purchase food from the market. This allows farmers to reserve income from their high-value cocoa plantations — historically their primary source of revenue — for other needs. "The sale of their cocoa crops can then be used to improve their families' economic conditions," Martince says, her hands busy hoeing the ground. Communities must be prepared for the challenges of climate change and economic instability, which, if unaddressed, could lead to future conflicts.
Kebun lebih dari sekadar sumber makanan; kebun merupakan langkah menuju stabilitas ekonomi dan kemandirian. Penduduk desa kini dapat menanam sayuran untuk rumah tangga mereka, sehingga mengurangi kebutuhan untuk membeli makanan dari pasar. Para petani dapat menabung sebagian pendapatan dari perkebunan kakao—yang secara historis merupakan sumber pendapatan utama mereka—untuk memenuhi kebutuhan lainnya. "Hasil penjualan tanaman kakao mereka dapat digunakan untuk meningkatkan perekonomian keluarga," jelas Martince, tangannya sibuk mencangkul tanah. Masyarakat harus siap menghadapi tantangan perubahan iklim dan ketidakstabilan ekonomi, karena bila tidak ditangani, dapat menyebabkan konflik di masa mendatang.
Though her journey began with pain and division, Martince now stands as a bridge between communities. As she and the women of Lape Village share a meal after their day's work, Martince reflects on the progress they've made. "This closeness we've built is a bond forged not just in the soil they tend together but in the trust and understanding they've cultivated," she says. Through initiatives like these, Martince and other women like her are helping villages move beyond their troubled pasts, fostering sustainable development and harmony among Poso's diverse communities.
Meskipun perjalanannya dimulai dengan rasa sakit dan pedihnya perpecahan di komunitasnya, Martince kini berdiri sebagai jembatan antar masyarakat. Saat ia dan para perempuan Desa Lape berbagi makanan setelah seharian bekerja, Martince merenungkan kemajuan yang telah mereka buat. "Kedekatan yang telah kami bangun ini adalah ikatan yang ditempa tidak hanya di tanah yang mereka kelola bersama, tetapi juga dalam kepercayaan dan pengertian yang telah mereka tanam," katanya. Melalui inisiatif seperti ini, Martince dan perempuan lain seperti dirinya membantu desa-desa bangkit dari masa lalu, mendorong pembangunan berkelanjutan dan keharmonisan di antara masyarakat Poso yang beragam.
Martince Baleona chops waste vegetation to be used as compost during a workshop on permaculture in Lape Village, Central Sulawesi.
Martince Baleona memotong sisa tanaman untuk dijadikan kompos saat lokakarya permakultur di Desa Lape, Sulawesi Tengah.
Martince Baleona and members of Lape village community divide seeds into small bags to be sold at a local market in Central Sulawesi.
Martince Baleona dan warga masyarakat Desa Lape membagi benih ke dalam wadah kecil untuk dijual di pasar lokal di Sulawesi Tengah.
Martince Baleona bids farewell to the women she has been teaching a permaculture workshop to in Lape Village, Central Sulawesi.
Martince Baleona mengucapkan selamat tinggal kepada para Perempuan peserta lokakarya permakultur di Desa Lape, Sulawesi Tengah.
Martince Baleona rearranges some of the bags of snacks created by the women of Lape Village at the local market stall, Central Sulawesi.
Martince Baleona menata ulang sejumlah kantong jajanan hasil karya ibu-ibu Desa Lape di kios pasar setempat, Sulawesi Tengah.
Martince Baleona and the reverend of her local church discuss a sermon recently given in Bukit Bambu, Poso, Central Sulawesi.
Martince Baleona dan pendeta gereja setempat membahas khotbah yang baru-baru ini disampaikan di Bukit Bambu, Poso, Sulawesi Tengah.
"My message to women: Let's protect the land, water and forests, which are the source of human life."
"Pesan saya terhadap perempuan, Mari lindungi Tanah, Air dan Hutan yang menjadi sumber kehidupan manusia."
As a teenager, Hasna didn't always follow traditional expectations. "It's okay to rebel against the rules, as long as it doesn't go against your conscience!" she says. Her defiance extended to gender roles, challenging the belief that women should only play passive roles in society.
When the earthquake devastated her village, Hasna used her experience in disaster management, gained through years of participation in capacity-building programmes. She had been aware that her rural upbringing could limit her access to higher education, so had sought opportunities to learn practical skills and share that knowledge with others.
Sewaktu remaja, Hasna tidak selalu mengikuti setiap aturan yang ditetapkan oleh orangtuanya. "Tidak apa-apa memberon- tak terhadap aturan, asalkan tidak bertentangan dengan hati nurani!" katanya. Pembangkangannya meluas hingga ke peran gender, menantang keyakinan perempuan seharusnya hanya memainkan peran pasif dalam masyarakat.
Ketika gempa bumi menghancurkan desanya, Hasna menggunakan pengalamannya dalam penanggulangan bencana yang diperolehnya saat berpartisipasi dalam pelatihan penanganan resiko bencana. Ia memang selalu mencari kesempatan untuk mempelajari keterampilan praktis karena ia menyadari bahwa jenjang pendidikan di pedesaan dapat membatasi aksesnya ke pendidikan tinggi. Lalu ia membagi pengetahuan itu dengan orang lain.
At midday, Hasna Songko works in a communal garden in her village in Sigi, Central Sulawesi.
Di siang hari, Hasna Songko bekerja di kebun milik masyarakat di desanya di Sigi, Sulawesi Tengah.
Recognizing the unique challenges faced by women during the crisis, Hasna became a vocal advocate for their needs. Clean water and functional bathrooms were particularly critical. "Women need a lot of water for toilets, especially during menstruation," she explains. Although a camp was established for those who had lost their homes, the lack of adequate bathrooms forced some residents to re-enter unsafe buildings to access toilets. Hasna pushed aid workers to prioritize bathroom repairs, ensuring women's dignity and safety in the aftermath of the disaster.
Menyadari tantangan unik yang dihadapi oleh perempuan selama krisis, Hasna menjadi advokat vokal untuk kebutuhan mereka. Air bersih dan kamar mandi adalah salah satu yang sangat penting saat bencana. "Perempuan membutuhkan banyak air untuk toilet, terutama saat menstruasi," jelasnya. Meskipun kamp telah didirikan untuk mereka yang kehilangan rumah, kurangnya fasilitas Mandi Cuci Kakus (MCK) yang memadai memaksa beberapa warga untuk kembali ke rumah mereka yang tidak aman, hanya untuk mengakses toilet. Hasna mendorong para pekerja kemanusiaan untuk memprioritaskan perbaikan kamar mandi, demi memastikan martabat dan keselamatan perempuan saat dan pasca bencana.
Hasna's leadership during the crisis challenged traditional assumptions about women's roles in her village. "Leadership does not always lie with men," she says. "We women can also lead." This perspective was hard-earned. In 2016, Hasna ran for Head of Mataue Village but faced gender-based discrimination. Her candidacy was marred by unfounded accusations of corruption related to her prior role as the village's treasurer. She also encountered skepticism about women's ability to lead.
Kepemimpinan Hasna dalam menghadapi situasi krisis ini menantang asumsi tradisional tentang peran perempuan di desanya. "Kepemimpinan tidak selalu berada di tangan laki-laki," tegasnya. "Kami perempuan juga bisa memimpin." Perspektif ini diperoleh dengan kerja keras. Pada tahun 2016, Hasna mencalonkan diri sebagai Kepala Desa Mataue tetapi menghadapi diskriminasi berbasis gender. Pencalonannya dirusak oleh tuduhan korupsi yang tidak berdasar terkait dengan peran sebelumnya sebagai bendahara desa. Dia juga menghadapi skeptisisme tentang kemampuan perempuan untuk memimpin.
Despite these obstacles, Hasna's effective response during the earthquake debunked many of these assumptions, earning her respect and support from her community. She is now focusing on her durian and vegetable gardens and continues to participate in training programmes alongside other women in her village. Through these activities, she enriches her knowledge and strengthens the network of women working to improve their community.
Meski dihadapkan pada kendala ini, kemampuan tanggap daruratnya yang efektif selama gempa bumi telah mematahkan asumsi ini, yang akhirnya membuat Hasna dihormati dan dukungan dari masyarakatnya. Hasna sekarang fokus pada kebun durian dan sayurnya dan melakukan pemberdayaan melalui program pelatihan bersama perempuan lain di desanya. Ia terus aktif dalam berbagai kegiatan untuk memperkaya pengetahuannya dan memperkuat jaringan perempuan yang bekerja untuk memajukan komunitas mereka.
Hasna Songko picks a small chilli from a communal garden in her village in Sigi, Central Sulawesi.
Hasna Songko memetik cabai di kebun umum di desanya di Sigi, Sulawesi Tengah.
"To women, I have a message: Women must seize opportunities, increase their capacity, Don't just stay silent and be useful to others."
"Kepada para perempuan saya berpesan: Perempuan harus merebut kesempatan, meningkatkan kapasitas, Jangan diam saja dan bermanfaat bagi sesama."